Dibalik Cerita Mistis Citarum

2501
Situ Cisanti Hulu Sungai Citarum

SUNGAI CITARUM, siapa yang tidak mengenal sungai yang satu ini. Selain dituding sebagai penyumbang banjir langganan yang terjadi setiap tahunnya di beberapa kecamatan di Kabupaten Bandung, Sungai Citarum juga menyimpan cerita mistis. Cerita mistis yang beredar dari mulut ke mulut sejak jaman dulu hingga kini.
Menurut cerita penduduk setempat, sumber air yang tertampung pada kolam kecil di kaki Gunung Wayang sebagai hulu dari Sungai Citarum, sejak lama dikenal sebagai sumber air keramat. Setiap bulan-bulan tertentu, sumber air tersebut kerap didatangi banyak peziarah yang bertujuan mendapatkan berkah, terutama menjadi semacam tempat wajib diziarahi oleh mereka yang berhasrat menjadi dalang
Selain sumber air keramat, di kawasan ini pun terdapat sebuah makam petilasan yang dianggap sebagai bagian leluhur pegunungan gaib hulu Citarum. Makam tersebut berada tepat di sebelah sumber air dan dikenali dengan sebutan Makam Eyang Dipati Ukur.

Makam Eyang Dipati Ukur
Makam Eyang Dipati Ukur

Para peziarah biasanya, setelah melakukan ritual mandi di sumber air Citarum, maka selanjutnya akan melakukan ziarah ke makam Eyang Dipati Ukur. Mereka umumnya melakukan ritual pengukuran makam dengan menggunakan tongkat “sadeupa” (ukuran dua rentangan tangan) yang merupakan simbol keberuntungan.
Setelah melakukan ritual tertentu dipimpin sang kuncen (juru kunci), peziarah selanjutnya melakukan pengukuran makam menggunakan tongkat “sadeupa”. Jika setelah diukur dengan tongkat tersebut ukuran makam pas atau sama dengan ukuran tongkat maka dipercaya segala keinginan peziarah akan terkabul. Sebaliknya jika setelah diukur panjang makam tidak sama dengan ukuran tongkat maka dipercaya segala keinginan peziarah belum bisa terkabul.
Cerita mistis lainnya berkaitan dengan Sungai Citarum adalah dua alur kekuatan gaib. Dari hulu hingga titik tengah di sekitar kawasan Dayeuhkolot, beredar mitos dikuasai oleh Munding Dongkol sebagai penguasa alam gaibnya. Munding Dongkol atau kerbau siluman yang memiliki tanduk seperti patah menggelantung ke bawah.
Menurut kepercayaan masyarakat sekitar, kemunculan kerbau jejadian ini biasanya terjadi ketika air Sungai Citarum akan meluap. Kerbau jejadian tersebut jika kebetulan ada yang melihat penampakannya dan dia sedang berenang di tengah sungai dari arah hulu ke titik batas kekuasaannya, maka dapat dipastikan banjir besar akan berlangsung. Munding Dongkol biasanya muncul sebagai pertanda akan terjadinya banjir itu, akan terlihat cuma bagian kepalanya saja. Seperti kerbau yang hanyut terbawa banjir.
Sementara itu, dari kawasan Dayeuhkolot hingga ke alur paling akhir, yakni di ujung paling barat kawasan Badung, konon Sungai Citarum ini memiliki penunggu gaib lainnya, yang berwujud seekor ular besar berwarna hitam dengan lingkaran putih dibagian lehernya, atau menyerupai kalung. Ular jejadian ini oleh masyarakat setempat dikenali dengan sebutan Raden Kalung.
Nama Raden kalung sendiri konon diambil dari nama seorang putera bupati yang sempat mengawini perempuan dari bangsa jin. Raden Kalung menjadi penguasa gaib Sungai Citarum konon tidak lain atas perintah ayahandanya sendiri. Cerita lainnya menyebutkan jika sosok Raden Kalung adalah sosok ular berkepala manusia. |aky dari berbagai sumber |

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY