Desember 11, 2017

Pangdam III Siliwangi Peduli Sungai Citarum

Pangdam III Siliwangi Peduli Sungai Citarum

Kab Bandung | Proses penghutanan kembali hutan Pangrango menanam kembali pohon-pohon endemik, juga bagaimana menjaga keluarga petani, bagaimaa juga supaya untuk menjaga hutannya, di Jawa Barat yang dikenal dengan talun, sebagai hulu sungai citarum perlu kita lestarikan hutannya agar airnya bersih dan sehat.

Sementara Pangdam III Siliwangi Mayjen Doni Monardo menyampaikan agar masyarakat yang terlewati aliran sungai citarum bisa menjaga kelestariannya dan jangan membuang sampah ke sungai citarum. “Air merupakan kebutuhan utama dalam kehidupan manusia dan makhluk hidup yang ada dimuka bumi ini, karena kalau airnya kotor tidak baik buat kesehatan kita,”.ujar doni.

Selanjutnya Doni menceritakan sejarah sungai citarum. “Kita semua harus tahu, setidaknya asal mula pemberian nama Citarum. Sudah banyak yang tidak mengenal pohon Tarum,” kata Doni di acara Sabilulungan melindungi Citarum, di Desa Tarumajaya ,Kecamatan Kertasari , Kabupaten Bandung, Minggu (3/12/2017) kemarin.

Pangdam III Siliwangi juga mengumpulkan sejumlah Kepala Desa dan secara simbolis memberikan pohon Tarum untuk ditanam di sekitar Situ Cisanti.Pohon Tarum pada masanya digunakan untuk pewarna di industri pakaian.

Doni menyampaikan, bahwa pohon ini dahulu kala banyak ditemukan, khususnya di Pegunungan Gunung Wayang. Namun, saat ini sudah hampir tidak pernah lagi ditemukan. Karena masyarakat lebih banyak mengalih fungsikan hutan menjadi lahan pertanian yang di dalamnya ditanami tanaman jangka pendek.

Doni juga menegaskan bahwa Sungai Citarum mengaliri 13 kabupaten kota di jawa barat,Diperkirakan sekitar 17 juta penduduk di bantaran Sungai yg menikmati langsung manfaat Sungai Citarum. Bahkan 70% air Sungai Citarum ini dipakai sebagai air baku untuk PDAM Jakarta. Yang lebih penting lagi selain untuk pengairan sawah di Bandung Raya, Cianjur, Purwakarta, Karawang dan Bekasi, Citarum juga mengaliri listrik di Pulau Jawa dan Bali dengan 3 bendungan raksasa yakni Saguling, Jatiluhur dan Cirata.

“Kini Sungai Citarum malah dijuluki Sungai terkotor di dunia. Hal ini karena limbah ribuan industri tekstil di Bandung Raya, Cianjur, Karawang & Bekasi menjadi kontributor rusaknya ekosistem air sungai Citarum. Selain sampah limbah kimia industri yg pekat, Citarum juga dikotori sampah rumah tangga seperti plastik dll. Yang membuat parah lagi hulu Sungai yang dulu rimbun oleh pepohonan yang lebat, kini gundul karena ditanami sayuran dan pohon perdu lainnya. Hal ini terlihat saat hujan lebat, hulu Citarum dan dari ratusan anak- anak sungainya, kini mengalirkan air yang coklat bercampur tanah akibat erosi di lereng gunung yang telah rusak ekosistemnya.”tutur Doni. (as’kur)

Related posts

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *